World Hindu Parisad World Hindu Wisdom Meet 2018, Anand ... | Liputan 24 Bali
www.AlvinAdam.com

Gratis Berlangganan

Tuliskan Alamat Email Anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

World Hindu Parisad World Hindu Wisdom Meet 2018, Anand ...

Posted by On 5:17 AM

World Hindu Parisad World Hindu Wisdom Meet 2018, Anand ...

World Hindu Parisad World Hindu Wisdom Meet 2018, Anand Krishna: Bali dan India Dulu Menyatu

Minggu (24/6/2018) merupakan pelaksanaan World Hindu Parisad World Hindu Widom Meet 2018 hari kedua

World Hindu Parisad World Hindu Wisdom Meet 2018, Anand Krishna: Bali dan India Dulu MenyatuTribun Bali/Putu SupartikaAnand Krishna saat menjadi narasumber World Hindu Parisad World Hindu Widom Meet 2018 hari kedua, di Gedung Ksirarnawa Art Center, Denpasar, Minggu (24/6/2018).

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Minggu (24/6/2018) merupakan pelaksanaan World Hindu Parisad World Hindu Wisdom Meet 2018 hari kedua, bertempat di Gedung Ksirarnawa A rt Center, Denpasar.

Hadir sebagai pembicara, salah satunya adalah Anand Krishna seorang spiritualis yang membawakan materi 'Tri Hita Karana: Kearifan Hindu Pribumi Bali untuk Jaman Modern.'

Ia sangat sedih mendengar ada istilah kebalibalian atau keindiaindian, padahal semua punya akar cultur yang sama.

"Sebelum ada nama Bali atau Jawa hanya ada nama Sunda yang berasal dari kata sund dalam Bahasa Sansekerta yang berarti belalai gajah. Bentuknya seperti belalai. Belum ada Bali, Jawa, dan kita masih menyatu dalam pulau besar namanya Jambu Dwipa," kata Anand.

Menurutnya, dari foto-foto satelit bisa dilihat bahwa hal itu benar dan peradaban mulai dari Hindu Afganistan sampai ke perbatasan Australia.

"Afganistan dalam Mahabharata kita punya paman yaitu Sakuni dengan adiknya Gandari," katanya.

Terbentuknya pulau-pulau yang terpisah ini terjadi setelah tahun 80-an.

Hal ini disebabkan oleh adanya bencana alam dan manusia, sehingga memisahkan Indonesia modern dari sub benua India sekarang.

Di antara orang-orang di kepulauan yang mempraktekkan Rta, kemudian mempraktekkan sistem keyakinan Dharma berdasarkan hukum alam.

Semisal orang Jawa mengacu pada sistem kepercayaan seperti Kejawen, orang Sunda yaitu Sunda Wiwitan, dan orang Bali mengacu pada sistem kepercayaan sebagai Agama Tirtha atau tradisi yang berdasarkan sacredness of the waters.

Anand Krishna juga mengutip teks lama berbahasa Sunda yang intinya, jangan mengotori sungai, hormati pohon-pohon, jangan nelukai, dan jangan menyakiti siapapun.

Jika tidak dihormati maka semua akan menderita.

Ia menambahkan, kita tidak hanya menghormati Pandita atau Sulinggih tapi harus menghormati juga pengetahuannya. (*)

Penulis: Putu Supartika Editor: Irma Bu diarti Sumber: Tribun Bali Ikuti kami di Video Syur Mirip Dirinya Beredar, Aura Kasih: Sepasaran Itu Kah Muka Aku Sumber: Berita Bali

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »